Let’s travel together.

Tips Membawa Sandal Saat Haji dan Umroh

0 0

Tips Membawa Sandal Saat Haji dan Umroh

Ahad (21/11) pagi, saya melihat beberapa jamaah yang shalat di Masjid Nabawi, meletakkan sandalnya tanpa bungkus di karpet di samping ia shalat. Saya memilih menentang sandal di kantong plastik.

Sekiranya saya tak bisa menyimpan di loker, saya tetap membawanya ke tempat saya shalat. Meletakkannya di lantai, tapi tidak dalam keadaan tak terbungkus. Beberapa teman sering menitipkan sandalnya ke kantong plastik saya.

Dengan jamaaah yang begitu besar, begitu masuk Masjidil Haram tak serta-merta mendapat tempat di posisi pintu yang kita inginkan. Perlu berputar-putar mencari tempat kosong, sehingga harus mencari pintu masuk lebih lama.

Seorang jamaah pernah minta bantuan kepada kami. Ia hanya ingat nomor loker tempat ia menimpan sandal, tanpa mengetahui di lorong pintu berapa loker itu berada. Ia berputar-putar cukup lama dan tidak menemukannya juga, sehingga bertanya kepada kami. Tentu saja kami juga tak tahu, karena kami tak pernah menghafalkan nomor loker. Kami memilih mengingat nama pintu atau nomor pintu, dan warna pintu.

Tips Membawa Sandal Saat Haji dan Umroh 0821-1177-8165

Saat kami meletakkan sandal di loker di lorong jalan pintu 84, kami cukup kesulitan untuk mencarinya kembali setelah selesai tawaf ifadah. Mencari dari pelataran tawaf tentu mudah, karena tinggal mencari nomor pintu. Tapi, kami sudah tak bisa balik lagi ke pelataran tawaf. Petugas tidak memperkenankan masuk lagi, karena pelataran tawaf sudah penuh.

Kami harus keluar masjid dulu,mencari pintu 84. Pas keluar, pintu yang kami tuju adalah pintu 79, maka kami tinggal menghitung lorong, dan baru ketemu lorong pintu 84. Sandal masih ada, Cuma sandal salah satu teman tak ada. Ada dua sandal yang sesuai merek dan warnanya, tapi ukurannya bukan ukuran sandal teman tadi.

Saat itu, sandal belum digaruk petugas. Dalam waktu-waktu tertentu, petugas masjid akan “menggaruk” sandal yang disimpan sembarangan. Suatu saat usai Subuh, kami pernah melihat tumpukan sandal di depan salah satu pintu Masjidil Haram. Dua petugas kebersihan dari Indonesia terlihat sedang memasukkan sandal-sandal itu ke kantong sampah. Ketika kami hendak memotetnya, dua petugas kebersihan itu melarangnya, karena takut sedang diawasi. Kata salah satu dari mereka, sandal-sandal itu akan dibuang.

Ahad (21/11) kami juga melihat tumpukan sandal di pelataran Masjid Nabawi. Lebih banyak dari tumpukan yang kami lihat di Masjidil Haram. Beberapa jamaah terlihat sedang mencari sandalnya di tumpukan sandal yang belum dibuang itu.

Seorang jamaah pernah kehilangan sandal di Masjid Nabawi pada 2008. Sandal-sandal lain juga sudah bersih dari tempat-tempat penyimpanan sandal ilegal. Pasti sudah digaruk petugas. Tapi, ketika ia bertanya kepada petugas, petugas hanya angkat bahu.

Jamaah lain juga mengaku kehilangan sandal di Nabawi pada umrah 2006. Saat keluar dari Pintu Baqi setelah melewati makam Rasul, ia harus memutar ke pintu depan, yaitu Pintu Abdul Majid, tempat ia menyimpan sandal. Ia harus berlari kepanasan di marmer pelataran masjid untuk mencapai pintu di bagian utara itu, usai shalat Ashar. Sesampai di tempat sandal samping Pintu Abdul Majid, ia sudah tak menemukan sandalnya.

Di Masjidil Haram, seorang teman berkali-kali kehilangan sandal. Ia memilih berjalan tanpa alas kaki menuju Sektor XII PPIH Daker Makkah, sekitar 200 meter dari Pintu Marwah Masjidil Haram. Ada sandal yang mirip, tapi ia merasa itu bukan sandalnya, sehingga ia tak berani mengambilnya.

Daripada harus berurusan dengan sandal hilang, saya memilih membawa sandal saya dalam plastik daripada membiarkannya telanjang saat menyimpannya di loker masjid. Kalau sekiranya loker penuh, saya memilih menentengnya ke tempat shalat. Kalaupun kemudian masjid penuh, mau keluar masjid tak perlu lagi berputar-putar mencari sandal, karena sandal selalu dekat dengan saya.

Senin Subuh, kami mengumpulkan empat pasang sandal dalam satu plastik. Kami simpan di dekat loker samping Pintu Abdul Majid Masjid Nabawi. Loker sudah penuh. Selepas Subuh, keluar dari Pintu Baqi, kami harus berputar lagi untuk mengambil sandal itu. Hari sebelumnya, karena sandal kami tenteng, kami tak perlu berputar untuk mengambil sandal, melainkan berputar untuk terus pulang.

Di tahun 1970-an, di penitipan sandal di Masjidil Haram dijaga petugas. Jamaah yang akan meniitpkan sandal akan dilayani oleh petugas penitipan ini, seperti halnya yang terjadi di Masjid Istiqlal. Kini, petugas penitipan sandal sudah tidak ada. Jamaah cukup menaruh sandalnya di berbagai loker yang disediakan, baik loker kayu maupun loker marmer.

Jika sudah tak kebagian, banyak yang menaruh di bawah tiang, di sela-sela galon zamzam ataupun di sela loker sandal. (Priyantono Oemar/MCH)

 

Dapatkan informasi Umroh Reguler, Umroh Plus Turki, Umroh Plus Dubai, Umroh Plus Aqsha dan Umroh Plus Cairo serta Haji Plus dan Haji Furoda atau Haji Non Quota di kami dengan menghubungi team kami di nomor : 0821-1177-8165

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.