Let’s travel together.

Kisah Perjalanan Manusia Mencari Tuhan

0 3

Kisah perjalanan ke tempat suci zaman dahulu bagaimana manusia mencari Tuhan

Sejenak kita akan meraba jiwa setiap manusia dan menguak sisi keagamaannya sekaligus merenungkan makhluk Tuhan lainnya. Bunga-bunga yang sedang mekar dengan segala kesahajaannya selalu menatap langit seolah mengerti bahwa dia hanya diciptakan untuk bertasbih. Demikian juga dengan burung-burung yang terbang ke suatu tempat untuk menyantap rezeki yang telah ditetapkan sang Pemberi. Semua itu terjadi karena sistem baku yang dibuat penguasa alam gaib.

Berbeda dengan manusia, burung-burung dan bunga-bunga ini tidak pernah salah, saat fitrahnya muncul, manusia akan menangisi apa yang telah diperbuatnya, kemudian menyusun berbagai rencana seperti layaknya sang pencipta Agung. Padahal, dengan berbuat seperti itu, mereka sebenarnya telah menyerahkan nasibnya kepada akal yang seringkali terjebak keruang tepi jurang prasangka. Dari sini, mereka akan terpenjara oleh keangkuhan. Saat melihat api yang bisa menyala dan membakar, mereka kagum dan menyembahnya, membuatkannya tempat khusus agar terus menyala, lalu mengunjunginya pada waktu waktu tertentu. Tapi, saat melihat kekekalan matahari, merekapun kagum dan mengira bahwa itulah barang hilang yang selama ini mereka cari. Saat melihat benda lain yang lebih menarik, mereka juga menyembahnya dan meninggalkan sesembahan sebelumnya.

Tidak ada satu umat pun, bahkan tidak ada satu agama pun, yang tidak mempunyai tempat suci sebagai simbol keyakinan mereka yang senantiasa diagungkan dan disucikan. Akibat hati nurani yang telah terkikis oleh keangkuhan dan kesombongan, mereka menyembah sesembahan buatan tangan mereka sendiri, menyucikan fenomena alam yang dianggap pantas untuk disucikan, seperti matahari, bulan, bintang gemintang dan lain sebagainya. Bisa dikatakan, semua itu hanyalah upaya pemuasan dahaga spiritual yang muncul dari asumsi dasar bahwa iman adalah Fitrah asli manusia yang telah salah jalan. Penting dicatat, setiap bentuk sesembahan tersebut tidak ada yang abadi, tidak di dalam lembaran sejarah maupun di dada orang yang membuatnya. Banyak diantaranya yang sudah terlupakan dan musnah ditelan zaman. Ragam sesembahan, penyembahan dari satu sesembahan ke sesembahan lain yang berbeda bentuk dan karakter, dan berbagai macam tahayul dan khurafat yang dilekatkan kepadanya, yang tercermin dari aneka ragam ritual dan konsep penyucian, telah mencetak dimensi-dimensi kejiwaan manusia.

Kisah Perjalanan Manusia Mencari Tuhan Travel Umroh 0821 1177 8165

Jika menengok kembali kehidupan keagamaan berbagai umat dan peradaban, kita pasti akan mendapati bahwa semuanya berada pada satu arah. Artinya, setiap umat dan peradaban memiliki sesembahan dan tempat ibadahnya sendiri-sendiri yang dikunjungi oleh para penganutnya pada waktu-waktu tertentu.

Hanya saja, tempat-tempat itu telah sirna ditelan waktu. Yang tersisa hanyalah reruntuhan-reruntuhan belaka. Berikut ini kami akan menyebutkan nama-nama sesembahan dan tempat pemujaannya yang pernah diyakini oleh sejumlah umat dan peradaban, sehingga kita bisa membedakan antara sesuatu yang dikehendaki Abadi oleh Tuhan sesuai dengan Wahyu dan sesuatu yang dilahirkan oleh keangkuhan manusia yaitu kemusyrikan.

Masyarakat Mesir kuno dikenal memiliki banyak sesembahan, pada waktu-waktu tertentu Mereka pergi mengunjungi kota Sha tempat Tuhan Eziz, kota Memphis tempat Tuhan Betah, dan daerah Thibah tempat Tuhan Amon.

Baca Juga : Sudah Siapkah kita menghadapi Gerhana Bulan 2018

Masyarakat Yunani kuno, sebelum 50 abad sebelum Masehi, juga pergi mengunjungi tempat-tempat suci menurut keyakinan mereka. Mereka pergi ke kota Afsus tempat Dewa Diana, kemudian berpindah menyembah dewa Menrifa di Atsina 2 abad sebelum Masehi, lalu berpindah lagi ke kota Olympia tempat Dewa Jupiter.

Masyarakat India secara rutin pergi ke kota Hiderabad tempat Tuhan jarazanat yang mereka juluki dengan nama Al-wara, yaitu sebuah Arca di bebatuan Hiderabad. Mereka juga pergi ke kota daerah Muna di dekat kawasan silan untuk menyambangi Sang Buddha, selain tempat-tempat mereka lainnya yang tidak mungkin kami sebutkan semuanya di sini.

Di Cina terdapat sesembahan bernama Nisan yang sejak dulu sudah dikenal luas oleh masyarakat di sana, mereka mengunjunginya pada saat-saat tertentu untuk mendapatkan berkah dan keberuntungan.

Masyarakat Jepang juga secara rutin mengunjungi sesembahan mereka di wilayah Sega. Anehnya, mereka meniru beberapa manasik haji kaum muslim seperti memakai pakaian ihram.

Setelah semua ini disebutkan Masihkah ada yang menyembah Wara, Sega, Betah, Eziz dan Menrifa? Kami kira itu semua hanyalah ingatan sejarah lokal. Adapun beberapa daerah, peninggalan, dan arca yang kesuciannya masih mereka yakini sampai saat ini sebenarnya hanya disebabkan Cahaya Kebenaran belum masuk sampai ke hadapan mereka.

Baca juga : Rahasia Air Zam Zam yang wajib kita ketahui

Tidak ketinggalan juga di negeri kita tercinta Indonesia, yang dahulunya menganut faham animisme sehingga sangatlah kuat orang-orang yang masih mengunjungi tempat-tempat tertentu yang di anggap angker, atau memiliki kekuatan magis, baik itu di gunung dengan pohon-pohon besarnya yang berusia ratusan tahun, atau batu-batu besar yang unik, ataupun di lautan dengan larung sajinya.

Hal ini dilakukan karena mereka meyakini ada kekuatan yang maha hebat di luar sana yang tidak bisa di raba oleh manusia, namun keimanan dan ketauhidan yang belum masuk ke dada mereka sehingga mereka menjalani berbagai ritual kemusrikan ini…

Untuk Umat Islam yang ajarannya datang dari Wahyu Tuhan maka segala aturan dan ketentuannya sudah baku sesuai dengan tuntunan tuhan dalam kitab suci umat islam yaitu Al Quran, maka tempat suci dan ibadah di tempat suci tersebut harus sesuai dengan ketentuan dan tuntunan Tuhan dan Rasul utusannya, yaitu Nabi Muhammad SAW.

Apabila Rasulullah memerintahkan untuk melaksanakan Umrah dan Haji yang hanya bisa di lakukan di Baitullah yang ada di Makkah, maka ketentuan itu tidak ada pengecualian, semua harus tunduk patuh ada ketentuan itu, tidak bisa kita menjadi melakukan umroh atau haji di luar baitullah dan kota Makkah.

Maka Apabila ada yang mengatakan dan melakukannya dan tidak sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasulnya maka dapat di pastikan itu adalah suatu kemusyrikan, baik itu dengan melakukannya, atau meyakininya..

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.