Let’s travel together.

Melaksanakan Ibadah Umroh Seperti Ibadah Haji

0 1

Ibadah Umroh Laksana Ibadah Haji

Malaksanakan Ibadah Umroh dengan melakukan perjalanan darat dari Madinah menuju Mekkah masih tersisa sekitar satu jam lagi, namun pembimbing jamaah umroh dari ESQ Tour sudah mulai memberikan wejangan. “Bapak-bapak, ibu-ibu, kita sudah ambil miqat tadi di Bir Ali. Insya Allah kita laksanakan umroh di malam Jumat ini, bertepatan dengan peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW,” kata Ustad yang menjadi mutawif (pembimbing umroh).

Ia kembali mengingatkan agar jamaahnya yang akan menjalankan ibadah umroh dengan melakukan Tawaf, Sa’i, hingga Tahalul pada malam itu agar lebih bersabar, mengingat kondisi Masjidil Haram akan lebih ramai dari malam-malam lainnya.

 “Kalau malam Jumat, bapak-bapak, ibu-ibu, orang-orang Arab sendiri biasanya pada umroh, jadi nanti bakal ramai. Apalagi malam ini bertepatan dengan Isra Miraj, saya juga belum bisa bayangin bagaimana penuhnya,” ujar dia.

Beberapa pertanyaan pun lantas terlontarkan dari para jamaah di dalam bus berpenumpang kurang lebih 45 orang yang telah mengenakan ihram tersebut. Tidak hanya mereka yang baru pertama melaksanakan ibadah haji kecil, yang sudah bergelar haji pun ikut melontarkan pertanyaan.

Suasana dalam bus pun berubah riuh oleh candaan para jamaah memberi komentar jawaban-jawaban mutawif, sebelum akhirnya kembali senyap, berganti dengan Talbiyah yang dilantunkan samar oleh para jamaah.

“Labbaika Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal-hamda wanni’mata laka wal-mulka la syarika lak”. Talbiyah terdengar mengiringi jamaah hingga memasuki Tanah Haram. Jam mendekati pukul 22.30 waktu setempat.

Satu per satu jamaah berkumpul di lobi pemondokan setelah menyimpan koper atau mengambil wudhu lagi bagi mereka yang batal. Tepat pukul 23.00 waktu setempat jamaah mulai berjalan kaki bersama-sama menuju Masjidil Haram sambil kembali bertalbiyah.

Jarak pemondokan dengan Masjidil Haram kurang lebih 200 meter, dan terletak di belakang “Mecca Clock Royal Tower”.Setelah lima menit berjalan akhirnya salah satu tower Masjidil Haram terlihat, dan lima menit berikutnya jamaah sampai di depan pintu utama Masjidil Haram.Ibadah Umroh Seperti Ibadah Haji

Pintu yang bisa dikatakan berhadap-hadapan langsung dengan “Mecca Clock Royal Tower” yang merupakan jam empat sisi terbesar di dunia. Suasana di halaman masjid begitu ramai oleh mereka yang melaksanakan shalat, tadarus, hingga mereka yang sekedar duduk berdzikir sambil menanti waktu bertahajud.

Tampak beberapa askar berseragam hitam berjaga di depan pintu masuk masjid mengawasi ribuan manusia yang hilir-mudik memasuki Masjidil Haram. Dan beberapa detik setelah melangkahkan kaki melewati pintu utama rombongan akhirnya dapat melihat Ka’bah, kiblat bagi seluruh umat Islam di dunia.

Tawaf dimulai “Bapak-bapak, ibu-ibu, kita shalat Isya dulu berjamaah sebelum kita melakukan tawaf, tadi kan kita baru melaksanakan shalat Magrib, Isya-nya belum,” ujar Ustad. Rombongan jamaah bergegas mengambil tempat, merapikan dan meluruskan shaf di satu sisi tidak begitu jauh dari pintu masuk Masjidil Haram.

“Sekarang kita laksanakan Tawaf. Kita buat formasi seperti yang sudah kita sepakati tadi, bapak-bapak berada mengelilingi ibu-ibu dan yang sepuh, situasinya bisa dilihat sendiri ramai sekali jika sampai terpisah kita bertemu di tempat kita bisa minum air zam-zam ya,” lanjutnya.

Ia lantas meminta jamaah dari rombongannya untuk tidak putus mengikuti bacaan surat yang akan dilafalkannya saat melaksanakan tawaf. “Supaya kita tetap semangat dan tidak terputus oleh rombongan lain,” kata si muthowif.

Hati masih berdebar ketika melihat Ka’bah dan semakin berdebar melihat “lautan” manusia yang sudah berputar terlebih dahulu mengelilingi Ka’bah. Sekitar pukul 23.30 waktu setempat, berbekal “Bismillahi Allahuakbar” sambil melambai ke arah Hajar Aswad lalu mengecup telapak tangan rombongan mulai bertawaf.

Hingga putaran ke-4 sebanyak 45 orang anggota jamaah dalam rombongan yang dipimpin Ustad masih “utuh” meski sudah terdesak, terdorong, hingga tersikut jamaah lain akhirnya tercerai-berai memasuki putaran ke-5 hingga ke-7.

Pakaian ihram pun sudah basah oleh keringat. Perjalanan antara Hajar Aswad menuju maqam Ibrahim seharusnya begitu dekat hanya beberapa langkah saja, namum saat itu terasa begitu berat dan jauh. Mereka yang melaksanakan Tawaf tepat pada malam peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW tahun 2013 ini begitu banyak, kabarnya jumlahnya hingga melebihi tawaf pada pelaksanaan haji tahun 2007.

“Allahu Akbar,” teriak salah satu jamaah perempuan dari rombongan ESQ Tour. Rupanya ia terhimpit oleh beberapa jamaah laki-laki berbadan besar dari negara lain sesaat setelah melewati maqam Ibrahim menuju hijir Ismail.

Segera ia bersama beberapa jamaah rombongannya memutuskan memperluas radius putaran tawaf dari Ka’bah berharap tidak terhimpit lagi oleh jamaah berbadan besar lainnya. Benar saja mereka tidak lagi terhimpit, tetapi perjalanan mereka menjadi semakin terasa jauh mengingat antrian jamaah yang terkadang tidak bergerak selepas maqam Ibrahim hingga melewati hijir Ismail begitu panjang hingga memakan waktu lebih dari 30 menit untuk melewatinya.

Antrean panjang dan cukup lama selalu terjadi selepas Hajar Aswad menuju maqam Ibrahim karena mereka yang melakukan tawaf harus berbagi dengan mereka yang hendak melaksanakan sholat sunnah di belakang maqam Ibrahim, selain juga harus berdesakan dan terhimpit oleh mereka yang hendak mendekat, melihat, mencium Hajar Aswad.

Antrean lebih panjang dan lebih lama kembali terjadi selepas maqam Ibrahim hingga melewati hijir Ismail. Ini terjadi karena penyempitan areal tawaf akibat pengerjaan proyek perluasan Masjidil Haram di sisi timur laut Ka’bah.Udara pun terasa tipis di tengah antrean puluhan ribu manusia yang berdesakan melaksanakan tawaf malam itu.

Sedikit hawa segar didapat setiap kali kepala didongakkan ke atas menatap langit tanpa bintang, meski terkadang debu dari proyek perluasan Masjidil Haram ikut terhirup oleh jamaah.Waktu sudah hampir nunjukkan pukul 02.00 dini hari, bersamaan dengan rombongan jamaah yang masih berjuang menyelesaikan putaran terakhirnya para kuli bangunan dari proyek perluasan Masjidil Haram pun berjuang menyelesaikan pekerjaannya.

Suara bising dari alat pemecah dinding pun masih bersautan dengan doa yang dilantunkan oleh para jamaah. Setelah tiga jam akhirnya rombongan menyelesaikan tawaf dan langsung mengambil tempat segaris menghadap Hajar Aswad dan melaksanakan shalat sunnah tawaf, yang kemudian dilanjutkan meminum air zam-zam dengan tiga tegukan sekali minum.

Berlanjut ke Sa’I Meski peluh menghinggapi raga usai berjuang melakukan tawaf selama beberapa jam, namun ibadah umroh atau ibadah haji kecil belum sempurna jika Sa’i dan Tahalul belum terlaksana. Rombongan jamaah ESQ yang telah terpecah melanjutkan ibadah sa’i, berjalan dan berlari-lari kecil sebanyak tujuh kali di sepanjang lorong yang menghubungkan bukit Safa dan Marwah.

Bukit yang semula terjal menjadi lebih ringan didaki karena telah disulap sedemikian modern dan ditambahkan penyejuk udara. Karenanya jangan berharap melihat langit ketika berada di antara Safa dan Marwah karena tempat ini telah diubah menjadi bangunan bertingkat yang menyatu di dalam komplek Masjidil Haram.

Bahkan bagi jamaah yang berkebutuhan khusus dapat memanfaatkan fasilitas skuter listrik yang dapat disewa sekitar 100 riyal untuk melaksanakan sa’i di lantai dua. Beberapa jamaah ESQ pun mengaku sempat tertegun melihat pemandangan yang tampak begitu modern di lantai tersebut.”Ke mana yang pada jalan dan berlari kecil?” tanya salah satu jamaah bernama Arik sambil melihat lorong panjang yang menghubungkan Safa dan Marwah di lantai dua.

Jamaah yang beribadah sa’i sana tidak perlu menahan dahaga karena air zam-zam telah dialirkan ke keran-keran yang disediakan di sepanjang kedua bukit tersebut. Sehingga rasa lelah dari pelaksanaan umroh mulai pelaksanaan tawaf hingga ke tahalul dapat berkurang oleh sejuknya air zam-zam.

Butuh waktu satu hingga 1,5 jam untuk berjalan diselingi berlari kecil bagi jamaah laki-laki sebanyak tujuh kali antara bukit Safa dan Marwah. Ketika adzan pertama untuk shalat Subuh berkumandang pada pukul 03.00 waktu setempat, sebagian rombongan masih menyelesaikan ibadah sa’i mereka.

Dan ketika adzan Subuh berkumandang pada pukul 04.00 sebagian besar rombongan jamaah umroh ESQ telah menyelesaikan ibadahnya.Tahalul, menggunting beberapa helai rambut telah dilaksanakan, tertib telah dilakukan.

Akhirnya ibadah haji kecil pun telah sempurna dijalankan.Diah salah seorang jamaah dari Bekasi mengatakan ibadah umroh yang baru saja ia selesaikan terasa lebih berat dibanding ibadah haji yang ia laksanakan di tahun 2007. Pembongkaran 44 persen tiang bangunan Masjidil Haram di sisi timur laut Ka’bah telah memakan tempat untuk pelaksanaan tawaf.

Jamaah semakin terpaksa semakin berdesakan terlebih karena areal tawaf di lantai dua dan tiga di Masjidil Haram diputus sementara untuk proyek perluasan tersebut.”Tidak bisa dibayangkan betapa lebih beratnya para jamaah haji kita nanti melaksanakan tawaf. Kalau memang harus tertunda, Insya Allah mungkin itu juga jalan terbaik dari Allah dan mungkin akan digantikan waktunya yang lebih baik,” ujar dia.

Debu yang begitu pekat dari pembangunan di Masjidil Haram dan wilayah sekitarnya, suhu udara yang begitu panas mencapai 50 derajat celsius, menurut dia, menjadi hal yang paling memberatkan ketika beribadah di Mekah.

“Saya dengar pembangunannya bisa sampai 2020, lama sekali. Tapi kasihan juga buat jemaah haji yang sudah tua-tua kalau kondisinya seperti ini, fisik mereka sudah kalah dari jemaah asal India, Afrika, Turki, Pakistan, ditambah lagi kondisi lingkungannya yang seperti sekarang,” ujar Diah.

Dari pantauan Antara pada awal Juni lalu, pembangunan dari proyek perluasan Masjidil Haram yang menghabiskan anggaran hingga 20 miliar dolar AS tersebut tidak saja terjadi di dalam Masjidil Haram, tetapi juga di bagian luar masjid. Lahan bekas bangunan hotel-hotel bintang empat dan lima di sekitar masjid yang sudah diruntuhkan pun masih tertutup rapat “cover body material” yang terbuat dari alumium dan meredamkan suara.

Dari balik sana lah debu-debu beterbangan. Tidak heran jika akhirnya Pemerintah Kerajaan Arab Saudi memutuskan mengurangi kuota calon jamaah haji dari setiap negara di seluruh dunia sebesar 20 persen, dan kuota haji lokal dikurangi 50 persen.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan keamanan dan kenyamanan calon jamaah haji dan yang melaksakanan ibadah umroh saat melakukan tawaf dan sa’i di Masjidil Haram. (Virna P Setyorini/antara)

 

Sumber : jurnal haji umroh dot com

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.