Let’s travel together.

Cerita Inspirasi Islami, Tukang Sampah Naik Haji

0

Radiudin Tukang Sampah Naik Haji

Kisah Tukang Sampah Naik Haji – Bekerja sebagai petugas kebersihan yang bergelut dengan sampah tidak menjadikan Radiudin berkecil hati untuk memiliki niat yang mulia yakni menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah yang terkadang menjadi hal yang tidak mungkin bagi mereka yang penghasilan rendah.

Seorang jamaah calon haji Radiudin memasukkan sampah ke truk di Depo Muktisari, Kelurahan Tegal Besar, Kaliwates Jember, Jawa Timur, Sabtu (6/8). ANTARA/Seno

Bau busuk sampah yang menyengat setiap hari dirasakan dan kegiatan rutin membersihkan sampah di Depo sampah Lingkungan Muktisari, Kelurahan Tegalbesar, Kecamatan Kaliwates dijalani dengan sukacita, tanpa rasa lelah.

Pria berusia 51 tahun yang merupakan warga Dusun Bunder, Desa Sumber Pinang, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, Jawa Timur itu rela bekerja keras demi mewujudkan impiannya untuk menjalankan rukun Islam kelima tersebut.

“Awalnya saya tidak menyangka bisa naik haji tahun ini dan alhamdulillah saya diberi kemudahan oleh Allah SWT untuk mewujudkan impian saya menjalankan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah,” tuturnya.

Keinginan Kuat Tukang Sampah Naik Haji

Sejak tahun 1993, bapak tiga anak itu menekuni pekerjaan sebagai pemulung sampah dan petugas kebersihan yang kini sudah diangkat sebagai tenaga honorer di Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya Pemerintah Kabupaten Jember dengan penghasilan pertamanya sebesar Rp1.000 per hari dan tunjangan bulanannya sebesar Rp5.000, sehingga total uang yang diterimanya hanya Rp35.000 per bulan.

Keinginan Radiudin untuk menunaikan ibadah haji itu melalui perjalanan yang cukup panjang dengan banting tulang dan bekerja tambahan sebagai pemulung yang mengumpulkan barang bekas bernilai ekonomis tinggi di antara tumpukan sampah untuk dijual kembali.

Cerita Inspirasi Islami Tukang Sampah Naik Haji, Travel Umroh ESQ Duha Wisata

“Alhamdulillah tahun 2009, saya berhasil mendaftar haji ke Kantor Kementerian Agama Jember dengan membayar sebesar Rp20 juta hasil menabung sekian lama, sehingga mendapatkan kursi untuk menunaikan ibadah haji tahun 2016,” katanya.

Ia tidak pernah mengeluhkan keadaan hidupnya yang sehari-hari di tempat pembuangan sampah karena sampah-sampah yang berbau busuk itu justru menghidupi keluarganya, bahkan memberikannya bonus untuk naik haji.

Dukungan Keluarga Agar Bisa Naik Haji

Jarak tempat tinggal calon jamaah haji pemulung sampah itu menuju ke tempatnya bekerja di Depo sampah di Kecamatan Kaliwates sangat jauh yakni sekitar 20 kilometer, hal tersebut mengharuskan ia berangkat pagi-pagi sekali untuk membersihkan sampah rumah tangga tersebut.

“Saya masih ingat pesan orang tua yang tidak boleh mengeluh dalam menjalankan hidup karena Allah akan memberikan berkah dalam setiap pekerjaan yang selalu disyukuri oleh umatnya,” tuturnya sambil menerawang jauh, mengingat pesan orang tuanya.

Dukungan istrinya Mariyati dan anak-anaknya untuk menunaikan ibadah haji juga cukup kuat dan hal tersebut dibuktikan dengan semangat yang diberikan keluarganya dapat memotivasinya untuk selalu bekerja keras dan hidup sederhana.

“Istri saya selalu memberikan semangat ketika rezeki yang saya dapat sedikit dan selalu berhemat untuk belanja kebutuhan sehari-hari demi menyisihkan uang untuk tabungan haji, begitu juga anak-anak saya,” ujarnya.

Kendati hidup berpenghasilan pas-pasan dengan honor sebesar Rp 450.000 per bulan sebagai tenaga honorer petugas kebersihan, Radiudin juga rajin bersedekah kepada orang-orang yang kekurangan yang hidupnya lebih menderita dibandingkan kehidupannya.

“Kekuatan sedekah juga memberikan saya berkah untuk bisa menunaikan ibadah haji karena saya yakin sedekah merupakan cara terbaik untuk memperlancar rezeki yang didapat, berapa pun itu,” ucapnya.

Istri Radiudin, Maryati juga tidak menyangka suaminya bisa berangkat haji tahun ini karena keinginan suaminya untuk menjalankan rukun Islam kelima tersebut sudah disampaikan kepada keluarga bertahun-tahun silam.

“Dengan penghasilan berapa pun, saya berusaha untuk menyisihkan uang sedikit demi sedikit untuk membayar tabungan haji dan alhamdulillah cita-cita suami saya terwujud untuk berangkat ke Tanah Suci,” katanya.

Ia menyampaikan bahwa pihak keluarga memberinya dukungan penuh kepada suaminya yang ingin menjalankan ibadah haji karena menurutnya hal tersebut menjadi sesuatu yang mustahil bagi seorang tukang sampah memiliki penghasilan pas-pasan.

“Kami menjalani hidup dengan ikhlas dan tidak pernah mengeluh, sehingga tidak ada yang mustahil untuk didapatkan, apabila kita selalu bekerja keras dan berdoa untuk mewujudkan impian itu,” ujarnya.

Maryati berharap suaminya bisa melaksanakan haji dengan sempurna, kemudian diberikan kesehatan dan keselamatan, sehingga dapat kembali ke Jember untuk berkumpul bersama keluarga dan menjadi haji mabrur.

Radiudin menjadi salah satu dari 1.999 calon haji asal Kabupaten Jember yang menunaikan ibadah haji tahun 2016 dan pria berprofesi sebagai tukang sampah itu masuk dalam kelompok terbang (kloter) 19 yang tergabung dalam KBIH Al Mutazam Cangkring Jenggawah.

Tukang Sampah Naik Haji Menjadi Inspirasi dan Motivasi

Keberhasilan Radiudin menunaikan ibadah haji menjadi inspirasi tersendiri bagi rekan seprofesinya yakni pemulung dan tukang sampah yang setiap hari bergelut dengan barang-barang kotor tersebut.

“Tentu ini menjadi motivasi bagi kami untuk tetap semangat bekerja, agar bisa mengikuti jejak Pak Nur (panggilan Radiudin) berangkat menunaikan ibadah haji yang awalnya menjadi sesuatu yang tidak mungkin,” kata teman Radiudin, Soleh.

Rasa bahagia dan haru terlihat jelas saat pria yang sehari-hari di Depo sampah Kelurahan Tegalbesar itu berpamitan dengan teman-temannya karena akan berangkat ke Tanah Suci Mekkah.

Bahkan Radiudin juga sudah mendapatkan izin cuti dari Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya sejak sepekan sebelum keberangkatannya menuju Asrama Haji Sukolilo di Surabaya pada 15 Agustus 2016.

Menurutnya, tidak semua orang bisa dipanggil untuk menjalankan rukun Islam kelima tersebut, bahkan orang kaya yang memiliki harta berlimpah terkadang belum bisa menunaikan ibadah haji tersebut karena berbagai hal.

“Kami berharap Pak Nur bisa menjalankan ibadah haji dengan baik dan selalu mendoakan kami, agar bisa dipanggil sebagai tamu Allah dan berangkat haji nantinya, entah itu kapan,” katanya.

Sosok Radiudin yang rajin dan hidup sederhana juga menjadi tauladan bagi sesama rekan kerjanya, sehingga beberapa tukang sampah juga berusaha untuk mengikuti jejaknya dengan rajin bekerja dan menabung, serta menyisihkan penghasilan yang tidak seberapa untuk bersedekah.

Sementara itu, Kasi Haji dan Umroh Kementerian Agama Jember Misbakhul Munir mengatakan jumlah jamaah calon haji di Jember tahun 2016 sebanyak 1.999 orang yang terbagi dalam lima kelompok terbang yakni kloter 15, 16, 17, 18, dan 19 yang akan berangkat pada 14-15 Agustus 2016. “Dari lima kloter tersebut, hanya kloter 19 yang merupakan gabungan dari calon haji Jember, Blitar, dan Surabaya,” tuturnya.

Kabupaten Jember mendapat kuota terbanyak di Jawa Timur sebanyak 2.036 orang, namun dalam perjalanan pelunasan BPIH, terdapat calhaj yang belum melunasi hingga tahap pelunasan kedua dan menunda keberangkatan karena berbagai alasan, sehingga jumlah calon haji yang berangkat tahun 2016 sebanyak 1.999 orang.

“Saya berharap seluruh calon haji dapat menjaga kesehatannya baik sebelum berangkat maupun selama berada di Mekkah-Madinah, sehingga bisa khusyuk dan tenang menjalankan ibadah haji dengan sempurna, tanpa mengalami sakit,” ujarnya menambahkan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.